Proyek e-KTP disebut arisan skala besar bermula dari tim Fatmawati

Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK, Irene Putri mengungkapkan temuan barang bukti yang berupa lampiran email. Dalam email tersebut menyebutkan proyek e-KTP merupakan arisan berskala besar. Terdapat dua email yakni pada 10 Februari 2011 serta 7 maret 2011 ditujukan untuk orang yang tergabung ke dalam peserta lelang.

 

Pihaknya menemukan email (barang bukti) tersebut dalam bentuk print out. Kertas print out itu juga terdapat caption pembicaraan dalam email. Irene menjelaskan bahwa email tersebut awalnya dikirimkan lewat staf direksi Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) yakni Setyo Dwi Suhartanto ditujukan ke orang-orang tim Fatmawati. Email tersebut, membicarakan tentang beberapa hal, salah satunya pengadaan.

 

Kompetesi Lelang Tender E-KTP Berubah Komisi

Sebelumnya dalam persidangan, JPU, Taufik Ibnugroho mengkonfirmasikan pada dua saksi: Direktur Keuangan PT Quadra Solution (Willy Nusantara Najoan) dan karyawan swasta (Setyo Dwi Suhartanto) dengan terdakwa yaitu Andi Narogong dalam kasus e-KTP. Salah satu yang dikonfirmasikanya adalah terkait surat elektronik (email) yang ditujukan pada beberapa orang peserta lelang mengenai tender proyek e-KTP.

 

JPU Taufik saat di ruang siding mengatakan bahwa email Dewa poker tersebut ditujukan pada Mayus Bangun, Agus eko Pribadi, PT Quadra, Indi, Invanto Indra, dan Suwandi. Kemudian, Taufik membacakan surat tersebut. Bunyinya berkaitan dengan lelang proyek e-KTP. Walaupun  sudah diumumkan siapa yang menang tender akan tetapi persaingan diantara PNRI dan PT Astraphia masih berjalan.

 

Taufik juga menambahkan, seharusnya PNRI dan PT Astraphia saling bersaing sehat. Namun  kompetisi sudah diganti dengan komisi. Kemudian dalam email juga menyebutkan jika proyek e-KTP adalah arisan skala besar, mega korupsi, dan mega kolusi. Kemudian, lampiran tersebut merupakan lampiran dokumen standar untuk beberapa nama terdahulu seperti Setyo Suhartono, Mayus Bangun, Ir Agus Eko Priyadi, Indi, Suwandi, dll.

 

JPU Cecar Saksi Terkait Email Proyek E-KTP

Kemudian setelah membacakan isi dari email tersebut, Taufik langsung bertanya pada Willy Nusantara Najoan serta Setyo Dwi Suhartanto. Email dari siapakah yang saksi tahu? Kata Taufik pada Willy. Kemudian, Willy menepis tidak mendapat email tersebut. Dia tidak merasa bahwa dirinya ada di dalam email tersebut.

 

Kemudian Taufiq pun bertanya kembali pada Willy terkait dengan email tersebut. Akan tetapi Willy sebagai saksi tetap saja menepis hal itu. JPU, Taufiq menanyakan lagi kepada Setyo email tersebut. Tetapi Setyo juga menjawab tidak tahu menahu akan persoalan email tersebut. Taufiq mengatakan bahwa Pak Setyo Suhartono megetahui email ini dari mana? Dijawab oleh Setyo dengan jawaban yang sangat singkat “tidak”.

 

Untuk saat ini KPK sedang menjadwalkan pemeriksaan pada PNS di lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah yaitu Setya Budi dan Dedi Prijono. Juru bicara dari KPK, Febri Diansyah mengatakan jika keduanya diperiksa sebagai saksi tersangka Setya Novanto dugaan korupsi e-KTP.

 

Setya Novanto telah ditetapkan menjadi tersangka sebab diduga terlibat ikut mengkorupsi uang proyek e-KTP ketika menjabat ketua fraksi partai Golkar. KPK hingga saat inimasih belum memeriksanya sebagai tersangka karena menjalani sebuah perawatan. Ketua umum dari Partai Golkar itu, tidak memenuhi panggilan dari pihak KPK sudah sebanyak dua kali.

 

Selai itu, Setya Novanto tidak terima putusan KPK karena menetapkan dirinya sebagai tersangka. Sehingga melaporkan balik KPK. Demikianlah berita terkini tentang kasus korupsi e-KTP yang dilakukan oleh sejumlah petinggi penting di Indonesia.

Leave a Comment