Laga Amal Choirul Huda, Persela Kalahkan Timnas All-Star

Satu bulan sejak kepergian sang kiper Choirul Huda kala bertanding pada 15 Oktober 2017 lalu, Persela Lamongan pun memberikan sebuah penghormatan. Menggelar laga amal hari Rabu (15/11) kemarin di stadion Surajaya Lamongan, Persela berhasil mengalahkan Timnas All-Star dengan skor 1-0. Gol kemenangan Persela ini dicetak oleh Syamsul Arif pada menit ke-38.

 

Pertandingan yang menjual ludes 14 ribu lembar tiket ini diawali dengan pembentangan bendera raksasa bergambar Huda di lingkaran tengah lapangan. Seluruh tiket pertandingan sendiri akan diserahkan langsung ke keluarga mendiang kiper berusia 38 tahun itu. Sementara jalannya bertandingan, Timnas All-Star sudah menyerang dengan kekuatan penuh lewat Boaz Solossa dan Terens Puhiri.

 

Di bawah tekanan, Persela mencoba melakukan serangan balik lewat José Coelho. Bahkan di menit ke-11, Coelho mendapat peluang emas dengan melakukan sundulan meski akhirnya melebar ke kiri gawang Andritany Ardhiyasa. Hingga pertengahan babak, penguasan bola masih dimiliki Timnas All-Star yang mengandalkan Ponaryo Astaman dan Ahmad Bustomi.

 

Kebuntuan untuk Persela pecah pada menit ke-39 di saat Syamsul memanfaatkan bola rebound hasil tendangan Michael Sacramento yang berbuah gol. Pertandingan babak kedua sendiri berjalan cukup monoton karena tak banyak peluang togel online tercipta dikarenakan bola berkutat di tengah lapangan. Namun pertandingan ini bukan soal menang-kalah, melainkan penghormatan terakhir untuk Huda yang dalam seumur hidupnya setia bermain hanya untuk Persela saja.

 

Ajang Pertemuan Para Mantan

 

Sebagai pertandingan amal, pelatih Persela yakni Aji Santoso memang tidak mencari kalah menang. Begitu pula dengan pelatih Timnas All-Star yakni Jacksen F Tiago yang begitu merasa kehilangan akan sosok Huda. “Jalannya pertandingan ini tidak begitu penting. Mau kalah 100-0 atau 10-0 tidak penting. Karena makna malam hari ini bukan itu, tapi bagaimana kita bisa hadir di sini dan berdoa bersama. Saya bisa berada di sini dan jadi bagian dari momen ini, sangat luar biasa,” seperti dilansir Detiksport.

 

Satu hal yang menarik dari laga ini adalah selain berkumpulnya jagoan timnas, tetapi juga ajang reuni para mantan Persela. Mereka adalah Widodo Cahyono Putro, Iwan Setiawan dan Heri Kiswanto yang pernah jadi pelatih Persela. Sementara para pemain yang sempat memperkuat tim berjuluk Laskar Joko Tingkir itu adalah Fabiano Beltrame, Adisson Alves, Srdan Lopipic dan Marcel Sacramento.

 

Yang unik lagi adalah Jacksen memasukkan para pemain senior seperti Dian Agus dan Kurniawan Dwi Yulianto. Bahkan Widodo sempat main menggantikan Kurniawan di menit ke-71 berkesempatan merumput dengan dua anak asuhnya di Bali United, Irfan Bachdim dan I Gede Sukadana. Lantaran tak ada aturan batasan pergantian pemain di laga amal, Timnas All-Star sampai mengganti delapan pemain sekaligus yang jelas menjadi hiburan tersendiri bagi para supporter.

 

Ponaryo Astaman Pastikan Pensiun Jadi Pesepakbola

 

Selain ajang reuni, laga Persela melawan Timnas All-Star itu jadi pertandingan pertama Ponaryo usai resmi pensiun dari sepakbola. Pemain berusia 38 tahun itu terakhir kali bermain usai Borneo FC membungkam Arema FC 3-2 di stadion Segiri, Samarinda pada hari Sabtu (11/11) akhir pekan lalu. Sepanjang kariernya, Ponaryo pernah berhasil meraih gelar Indonesia Super League (ISL) bersama Sriwijaya FC.

 

Segera setelah memastikan diri untuk pensiun dari sepakbola, Ponaryo akan mengambil kursus kepelatihan lisensi A AFC meski belum memantapkan hati untuk menjadi seorang pelatih seperti Aji Santoso atau Widodo C Putro.

Sekilas Film Wiro Sableng Serta Fakta Tentang Tokoh Tersebut

Mereka yang melewatkan masa kanak-kanaknya di tahun 90-an pasti mengenal Wiro Sableng, sang Pendekar Maut pemilik angka keramat 212  yang setiap minggu setia mengunjungi penggemarnya dalam serial kolosal yang seru sekaligus jenaka. Setelah beberapa decade faktanya kisah klasik kolosoal tersebut malah menarik minat rumah produksi Amerika Fox International Production yang merupakan anak perusahaan 20th Century Fox untuk mengangkat kisahnya ke layar lebar. Film ini digarap dengan genre action comedy dan berjudul 212 Warrior. Tentu ini merupakan hal yang membanggakan mengingat proyek film ini perdana bagi FIP untuk kawasan Asia. Tentu saja muncul berbagai pertanyaan mengapa justru Wiro Sableng yang diangkat ke layar lebar dan bukan tokoh-tokoh superhero Indonesia lainnya seperti Si Buta dari Gua Hantu, Brama Kumbara, atau yang lainnya. Tetapi faktanya FIP memilih kisah superhero kapak naga geni 212 ini karena mempunyai beberapa alasan kuat.

 

Proses syuting Wiro Sableng

Film 212 Warrior ini sekarang masih dalam tahap produksi dengan prediksi durasi syuting sekitar 3.5 bulan. Pengambilan gambarnya sendiri dilakukan di Jakarta serta beberapa tempat lainnya di Jawa Barat.  Yang menjadi pemeran Wiro Sableng atau Vino G. Bastian yang juga putra dari penulis kisah ini yaitu Bastian Tito. Beberapa nama lainnya yang juga terlibat dalam film tersebut adalah Marcella Zalianty sebagai permaisuri, Rifnu Wikana sebagai Kalasrengi, Yusuf Mahardhika sebagai pangeran, Aghniny Haque sebagai Rara Kurni, Ruth Marini sebagai Sinto Gendheng, Yayan Ruhiyan sebagai Mahesa Birawa, Yayu Unru sebagai Kakek Segala Tahu, Dian Sidik sebagai Kalingundil, Cecep Arief Rahman sebagai Bajak Laut Bagaspati, Andi /rif sebagai Dewa Tuak, Marcell Siahaan sebagai Ranaweleng, Lukman Sardi sebagai Werku Alit, Dwi Sasono sebagai Raja Kamandaka, serta Happy Salma sebagai Suci. Sebelum memulai proses syuting para pemain dan kru juga menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Bastian Tito sang penulis cerita tersebut.

 

Karakter Wiro Sableng yang unik

Wiro Sableng sesungguhnya mempunyai nama asli Wiro Sasono tetapi karakternya yang senang bercanda, konyol, dan agak ceroboh bahkan saat bertarung dengan musuhnya membuat orang-orang menambahkan kata sableng di belakang namanya. Ciri khas inilah yang membuat setiap cerita dalam buku karangan Bastian Tito tersebut tak pernah membosankan. Selain kekonyolannya tersebut yang tak dapat dipisahkan dari tokoh tersebut adalah senjatanya yang disebut Kapak Naga Geni 212. Selain itu berdasarkan bukunya togel hk ia juga mempunyai ilmu pukulan matahari yang sangat ditakuti lawannya.

 

Tokoh pendekar sakti ini muncul pertama kali di tahun 1967 dalam bentuk novel dan setiap kali penerbitannya akan meraih penjualan sekitar 800 ribu eksemplar. Bahkan untuk seri yang berjudul Makam Tanpa Nisan terjual hingga mencapai 921.020 eksemplar.  Selama karier menulisnya, Bastian Tito telah menulis hingga 185 judul seri pendekar Wiro Sableng. Selain dalam bentuk novel tokoh ini juga pernah diangkat dalam serial kolosal yang juga mempunyai banyak penggemar. Sinetron ini bahkan diproduksi dalam dua bagian. Inilah sebabnya pihak produser optimis bahwa film Wiro Sableng 212 bisa mendulang sukses besar.

 

Menurut Tomas Jegeus dan Michael Werner sebagai produser eksekutif FIP, Wiro Sableng memang memiliki daya tarik tersendiri karena merupakan superhero lokal asli Indonesia. Selain itu unsur budaya yang terekam dalam kisah ini juga cukup kental sehingga dalam filmnya segi cultural mendapatkan porsi yang cukup besar. Perlu Anda ketahui bahwa film layar lebar Wiro Sableng tersebut merupakan rangkuman dari 185 judul novel Wiro Sableng. Penulis asli kisah ini bahkan harus melakukan survey ke berbagai lokasi di tanah air sebagai latar cerita termasuk mempelajari adat, budaya, hingga legenda yang berkembang di kalangan masyarakat setempat.

 

Selamat menantikan penayangan film Warrior 212 di layar lebar.

 

Dikalahkan Swedia, Italia Terancam Tak Lolos ke Piala Dunia Rusia 2018

Selama ini kiblat sepakbola dunia di kancah Eropa memang tak bisa melupakan timnas Italia. Skuad berjudul Gli Azzurriitu bahkan tercatat pernah menjadi juara Piala Dunia sebanyak empat kali. Adalah tahun 1934, 1938, 1982 dan 2006. Hanya saja gelar empat kali itu bukan menjadi jaminan bagi Italia untuk melenggang mulus ke Piala Dunia Rusia tahun 2018 mendatang.

 

Bahkan kali ini peluang Italia terancam setelah Swedia mengalahkan mereka di leg pertama babak play-off hari Sabtu (11/11) dini hari. Dalam pertandingan yang dilangsungkan di Friends Arena, Stockholm itu, Italia harus pulang dengan kepala tertunduk berkat gol tunggal Swedia pada menit ke-61 oleh Jakob Johansson. Berbeda dengan Italia, Swedia menjadikan hasil ini sebagai modal baik saat dijamu Italia hari Senin (13/11) di stadion San Siro, Milan.

 

Dalam pertandingan yang usai beberapa jam lalu itu, Italia memainkan formasi 3-5-2. Hanya saja Andrea Belotti tidak tampil dengan performa terbaik saat menjadi tumpuan lini depan bersama Ciro Immobile. Sempat mendapatkan peluang emas di menit keenam, sundulan Belotti dari umpan silang Matteo Darmian masih melenceng, seperti dilansir Detik Sport. Di menit ke-38 bahkan Giorgio Chiellini melakukan kesalahan sehingga hampir saja Marcus Berg melesakkan tendangan ke gawang Gianluigi Buffon yang masih bisa diselamatkan.

 

Kebuntuan mulai pecah saat Johansson yang adalah pemain pengganti di menit ke-57, berhasil mengecoh Buffon. Italia dilaporkan hampir menyamakan skor di menit ke-71 saat Darmian melakukan tendangan jarak jauh tetapi hasilnya masih menatap tiang gawang R Olsen.

 

Penampilan Timnas Italia Yang Tak Terlalu Mengecewakan

 

Atas kekalahan di kandang Swedia, sebetulnya penampilan timnas Italia tidaklah seburuk dugaan. Soccernet mencatat dalam pertandingan itu Italia bahkan mampu melakukan 10 kali percobaan mencetak gol yang semuanya gagal. Di mana satu-satunya tendangan yang paling akurat adalah milik Darmian yang masih menabrak gawang.

 

Mengenai kegagalannya, Darmian yang tercatat sebagai bek Manchester United itupun mengungkapkan penyesalannya. “Selain yang menerpa tiang gawang, kami mempunyai kans mencetak gol lainnya. Sementara Swedia mencetak gol keberuntungan dari satu peluang yang berbelok karena pantulan. Masih ada 90 menit lagi, kami butuh penampilan yang uar biasa. Kami semua ingin pergi ke Piala Dunia dan satu-satunya yang kurang dari kami cuma gol saja,” ungkap Darmian.

 

Italia Siap Hajar Swedia di Depan Publik Sendiri

 

Bukan hanya kekecewaan yang muncul di benak pemain, pelatih Italia yaitu Giampiero Ventura pun menyayangkan ketidak mampuan anak asuhnya. Menurut Ventura, ada banyak peluang yang tercipta dalam laga tandang itu, hanya saja skuad Italia masihlah belum maksimal dalam memanfaatkannya. Ventura pun berharap jika timnya bisa memperbaiki penampilan untuk menjaga asa lolos ke Rusia.

 

“Hasilnya bisa saja berbeda. Misalnya jika kami mencetak gol lebih dulu ketika sundulan Belotti melebar. Kini kami punya waktu tersisa 90 menit. Pertandingannya sangat didominasi fisik dan kami kesulitan karena hal itu. Kami harus memperbaikinya. Secara fisik, kami memang tidak bisa berbuat banyak sebab cuma punya waktu satu setengah hari. Tapi kami harus bisa membaca permainan lebih baik lagi selanjutnya,” jelas Ventura.

 

Ventura pun tak menampik jika para pemain sempat terlihat frustasi sampai marah-marah sendiri. Untuk itu dalam leg kedua di kandang Italia, dirinya berharap para pendukung bandar togel online akan hadir. Untuk bisa lolos ke Rusia, Italia membutuhkan kemenangan dengan margin dua gol.